Rangkuman Materi ASTS Genap Seni Tari Kelas 7 2026
KOMPOSISI TARI KELOMPOK Sebelum peserta didik melakukan kegiatan mencipta karya tari, peserta didik perlu diberikan pengetahuan dan keterampilan terkait komposisi tari. Menurut Soedarsono (1975), elemen-elemen pokok komposisi tari meliputi gerak tari, desain gerak (desain atas dan desain lantai), musik atau iringan, desain dramatik, tema, rias dan busana, tempat pertunjukan dan perlengkapan tari. Setiap penari dalam tari kelompok memiliki peranan dan harus bergerak secara harmonis satu sama lain. Jumlah penari dalam tari kelompok, dapat memberikan makna tertentu. Jumlah genap dalam tari dapat memberikan kesan menyatu dan seragam, sedangkan jumlah ganjil memberikan kesan memisahkan seseorang, untuk menimbulkan konflik (J. Smith, 1985).
Selain jumlah penari, penempatan ruang (desain lantai/pola lantai) dalam kelompok juga dapat mengandung makna tertentu. Pola lingkaran dengan arah hadap penari ke dalam lingkaran memberikan kesan menyatukan diri, sebaliknya sebuah lingkaran dengan arah arah hadap penari keluar dapat memberikan kesan tidak menyatu (J.Smith, 1985).
Gerak rampak merupakan gerak yang dilakukan sekelompok penari dalam waktu yang sama. Gerak rampak dapat dilakukan pada gerakan yang persis sama ataupun berbeda, namun dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Menurut J. Smith (Suharto, 1985) terdapat empat kemungkinan variasi gerak rampak yang dapat digunakan yaitu 1) gerak rampak dengan bentuk gerak yang sama; 2) gerak rampak dengan bentuk gerak saling mengisi; 3) gerak rampak yang dilakukan oleh dua kelompok yang bergerak berbeda -misalnya dalam waktu yang bersamaan, sekelompok penari di kanan bergerak dengan lembut, dan sekelompok penari di kiri bergerak dengan cepat dan tajam-; 4) Gerak rampak dengan bentuk gerak yang berbeda antara penari utama dan sekelompok penari pendukung.
Soedarsono (1975) mengklasifikasikan variasi desain gerak tari kelompok dalam lima desain gerak, yaitu a. Serempak (Union); gerak yang dilakukan sejumlah penari secara bersama-sama. b. Berimbang (Balance); gerak yang dilakukan secara simetris oleh pembagian kelompok yang berimbang. c. berurutan/bergantian (Canon); gerak yang dilakukan secara berurutan atau bergantian, dengan selisih waktu tertentu.d. Selang-seling (Alternate): Terdapat perbedaan gerak antara penari dengan nomor ganjil dan penari dengan nomor genap, baik dari segi arah gerak ataupun level.e. Terpecah (Broken): Setiap penari melakukan gerak yang berbeda, namun tetap menjadi satu kesatuan dan saling berhubungan satu dengan yang lainnya.
UNSUR PENDUKUNG TARI Keindahan sebuah karya tari bukan hanya bersumber dari rangkaian geraknya saja, namun juga didukung oleh unsur-unsur lain seperti iringan musik, tata rias dan busana, tata panggung, tata lampu dan tata suara. 1. Musik Musik dalam sebuah karya tari dapat berfungsi sebagai pengiring (iringan tari) atau pemberi suasana (ilustrasi tari). Musik sebagai pengiring tari dapat bersumber dari musik eksternal dan musik internal. Iringan musik eksternal bersumber dari bunyi-bunyian alat musik atau benda yang dapat menghasilkan bunyi (Dibia, dkk. 2006). Tari tradisional seperti Serampang Dua Belas dari Sumatera, dan Tari Lenso dari Maluku, merupakan contoh tari tradisional yang menggunakan musik eksternal dalam karya tarinya. Musik pengiring kedua tarian tersebut bersumber dari alat musik tradisional daerah masing-masing. Sedangkan iringan musik internal bersumber dari suara penari atau bunyi-bunyian yang dihasilkan dari gerakan penari (Dibia dkk, 2006). Berikut merupakan contoh tari tradisional yang memadukan iringan musik eksternal dan musik internal dalam karya tarinya
Penari dalam tari Randai membuat iringan musik internal dengan melakukan gerak tapuak galembong (gerak tepukan pada celana yang mempunyai pisak yang lebar), tepuk tangan, tepuk paha, tepuk kaki, tepuk siku, petik jari, dan hentakan kaki. Bunyi bunyian yang mencul menghasilkan iringan musik dengan tempo, dinamika, dan ritme yang menarik serta atraktif. Adapun musik eksternal yang digunakan sebagai pengiring pada tari Randai bersumber dari alat-alat musik tradisional Minangkabau, seperti saluang, bansi, talempong, dan gandang (Rustiyanti, 2014).
2. Tata Rias dan Busana Tata rias dan busana juga turut mendukung tema dan isi dalam sebuah karya tari. Keindahan tata rias dan busana tari, bukan dilihat dari kegemerlapannya saja, namun harus berkaitan dengan tema tari yang dibawakan, sehingga penonton dapat memahami tema tari sekaligus menentukan karakteristik tariannya (Suanda, 2005). Sebagai penunjang pementasan tari, tata rias menjadi penting untuk mendukung karakter/penokohan dalam tari, selain itu, tata rias dapat memanipulasi bentuk wajah manusia berbeda beda, sehingga saat sebuah karya tari menghendaki karakter/ penokohan yang sama pada sekelompok penari, maka mereka harus dirias semirip mungkin. Terdapat berbagai macam jenis tata rias yang dapat digunakan dalam pertunjukan tari, seperti tata rias korektif, tata rias panggung, tata rias tradisional dan tata rias karakter. Buku Panduan Guru Seni Tari untuk SMP Kelas VI
3. Tata Panggung Tari tradisional Indonesia dapat ditampilkan di berbagai tempat pertunjukan baik di panggung arena, pendopo atau panggung prosenium sesuai dengan fungsi dan jenis tarinya.
5. Perlengkapan Tari (Properti) Properti dalam sebuah pertunjukan tari bersifat fungsional. Properti tari merupakan suatu peralatan penunjang gerak sebagai wujud ekspresi (Hidajat, 2005). Selendang merupakan properti yang paling banyak digunakan dalam tari tradisional. Namun setiap daerah tetap memiliki ciri khas dalam properti tarinya, baik dari segi motif ataupun bentuk. Seperti properti yang digunakan dalam tari perang suku Dayak di Kalimantan, yakni kelembit/klampit (tameng yang terbuat dari kayu) dan mandau (senjata tajam serupa parang khas suku Dayak)
Comments
Post a Comment